Lulus dari Bank Danamon, setelah sebelumnya menenteng ijazah pengalaman di PT Berlina, Kelik memboyong istrinya ke Jogja. Pulang kampung, membangun kehidupan baru yang lebih menantang. Barang-barang yang tak lagi ia perlukan ia lego di rumahnya di kawasan Pondok Jagung, belakang Alam Sutera Tangerang. Saya kebagian sepeda motor Astrea Legenda. Motor itu kemudian jadi kendaraan operasional saya, menggantikan Astrea Prima yang dilorot ke Jogja, selama menyusuri jalan-jalan Jakarta.
Kembali ke Jogja, Kelik membantu istri mendirikan salon “Hills” di kawasan Jambusari. Awal banting setirnya. Dan ia seorang yang luar biasa. Mimpinya kuat. Tangannya pun tekun. Usaha salonnya berkembang pesat dengan pelanggan komunitas yang makin terjalin.
Namun, usaha itu terpaksa dihentikannya karena ada panggilan hati ke Tulungagung, Jawa Timur. Ia ditantang untuk mengelola toko bangunan keluarga istrinya. Dan ia menyanggupi. Luar biasa. Dengan tekad besar, sebagaimana karakternya, ia sungguh hidup di kota yang berjarak 5 jam perjalanan darat dari Jogja itu. Berbekal kemampuannya di bidang akuntansi, ilmu yang ditimbanya di UPN “Veteran” Yogyakarta, plus pengalamannya di BPR sewaktu kuliah, dan kuliah hidupnya di ibu kota, ia mengelola usaha tersebut dengan sungguh-sungguh.
Sudah menjadi agen sebuah merek semen terkemuka untuk wilayah itu. Ya, hanya dalam tempo singkat. Salon “Tamansari” pun sudah dibuka istrinya. Ia juga turut membangun sebuah bisnis hiburan. Dalam benaknya, ada rencana besar bikin lembaga pelatihan, salah satu obsesinya.
Terobosan terbarunya adalah menjadi teman bicara bisnis secara online. Ia membuka rumahnya lebar-lebar. Kelik beranjak menjadi konsultan keuangan.
Kelik teman yang unik. Sejak kenal di SMA, ia pribadi yang menyimpan bara dalam dirinya, sederhana atau lebih tepatnya miskin kala itu, dengan mimpi yang besar. Mimpi seorang pendendam hahaha! Sewaktu SMA, kami juga ngerjain dia. Sepeda motor Super Cup-nya kerap kami sembunyikan sadelnya. Maklum, sadelnya memang gampang copot. Ia tidak marah, malah kita ketawa.
Tapi ternyata, ejekan itu ia simpan sebagai amunisi untuk berprestasi. Setelah perjumpaan di Jogja, sesampainya kembali di Tulungagung, ia meng-sms saya beberapa kali: “Mudah-mudahan semua ejekan yang dulu pernah tak tompo setia menemaniku terus.”
Dalam hitungan hari, buku debutannya Berani Utang Pasti Untung segera terbit. Selamat, sobat!