Orangtua kami berteman. Teman semasa sekolah di Ganjuran. Itu kami tahu ketika kami sama-sama sekolah di De Britto. Itu pun di penghujung masa studi.
Tapi bukan itu semata alasan pertemanan kami berikutnya. Kami disatukan oleh banyak hal. Semasa SMA, kami aktif di sebuah organisasi pelajar lintas sekolah. Dia pengurus pusat, saya pengurus rayon. Di forum, kami kerap berselisih gagasan. Tapi, di luar forum, kami bergumul dalam canda gurau.
Bakat dagang Asdi sudah tampak sejak SMA. Jika ada kegiatan, ia selalu berkecimpung sebagai seksi dana. Apa pun ia lakukan untuk mendapatkan uang. Jual koran, salah satunya.
Jalur dagang ia teruskan ketika hijrah ke Jakarta, tak berapa lama setelah saya menginjakkan kaki di Ibu Kota. Ia bekerja di sebuah perusahaan farmasi terkemuka sebagai medical representative. Latar belakangnya memang farmasi UGM. Sampai sekarang, meski sudah berpindah perusahaan.
Orangnya sederhana. Tapi jangan tanya soal cita-citanya. Ke mana-mana ia naik motor. Bukan motor terbaru. Jika pulang Jogja, ia pun cukup menumpang kereta bisnis, bukan kereta eksekutif. Padahal ia mampu kalau mau. Sekarang ia sudah punya rumah di Jakarta, berkat kerja kerasnya dalam tempo singkat.
Kami suka janjian makan selama di Jakarta. Angkringan, favorit kami. Kalau tidak di Duren Sawit, ya di Blok M. Karena hobi jalan-jalan, tak heran jika kami bersaing kuat soal penguasaan peta Jakarta. Boleh sombong, teman-teman di Jakarta nyaris selalu tanya pada kami jika hendak pergi-pergi di Jakarta. Lebih-lebih soal jalan tikus.
Asdi teman yang baik. Solidaritasnya pada kawan begitu tinggi. Ia memperhatikan semua teman dengan kadar yang sama tingginya. Sejauh apa pun rumah teman, ia sudah singgahi. Ia rajin berkunjung.
As, nyenengke tenan kekancan mbek kowe. Donya krasa tansah enteng. Lucu tenan ya urip iki. Selamat menaklukkan Jakarta hahaha