Bertemu pada saat lebaran sudah seperti menjadi kebiasaan kami dalam tahun-tahun belakangan. Ia yang perantau di ibukota, meski sudah yatim piatu, selalu menyempatkan diri pulang saban hari raya Idul Fitri. Sebab, setiap Idul Fitri hari kedua, keluarga besar kami selalu berkumpul dalam pertemuan trah Pawirodikraman, Kumendung, Pakem.
Seperti lebaran kemarin. Kami bertemu di rumah keluarga Mbah Guno di Pakemgede. Seperti biasa, di tengah berlangsungnya acara yang selalu formal, kami menyempal ke belakang tenda, menyandar di pagar pinggir kebun. Ngobrol tentang banyak hal, juga tentang pekerjaannya di bagian promosi XL.
Menurut garis keturunan, saya harus memanggilnya “Oom”. Orangtuanya segaris dengan mbah saya. Namun, saya tak pernah memanggilnya dengan sebutan yang menurutnya akan bikin mati pasaran itu. Saya panggil dia “Mas”. Dia juga panggil saya “Mas”.
Gara-garanya sepele. Kami duduk sekelas di bangku sekolah, sejak di Taman Kanak-Kanak Kuncup Harapan hingga Sekolah Dasar Percobaan 3. Wuli sosok yang populer. Perawakannya yang montok, kulitnya yang hitam, hingga tingkahnya yang begijikan membuatnya gampang dikenal. Ia dekat dengan teman-teman wanita. Bersama mereka, ia suka main lompat karet, bekelan, empyeng, dan yang terkhusus, ia sangat piawai di dapur sekolah. Seminggu sekali ada jadwal memasak bersama di sekolah kami. Cowok yang paling menonjol keterampilannya meracik aneka olahan adalah Wuli.
Seingat saya, ia tidak suka, atau setidaknya jarang, ikut bermain bola.
SMP kami berpisah. Ia bersekolah di SMP 3 Depok, yang di kemudian hari dirubuhkan untuk didirikan bangunan Bank BNI 46 di Bulaksumur. SMA ditempuhnya di Bopkri 1 Jogja. Baru di perguruan tinggi kami bertemu kembali. Kami sama-sama menjadi mahasiswa Fisipol UGM. Saya ambil S-1, dia D-3.
Sesudah itu kami berpisah. Saya bekerja di Jakarta, ia merantau ke Lampung. Sejatinya ia tidak merantau. Orangtuanya pernah lama bekerja di Lampung sebelum kembali ke Jogja. Jadi, ia kembali ke perantauan. Kesukaannya pada musik dan acara hiburan mengantarnya menjadi penyiar di Radio OzFM, Bandar Lampung. Suatu ketika, saat saya mendapat tugas peliputan di Pringsewu, Lampung Selatan, saya sempatkan menemuinya. Kami minum es kacang merah di depan stasiun.
Mas Wuli, ayo ndang digarap rencana reuni kita. Sponsori sisan, MC sisan ya hahaha…