semua tentang teman

Maret 24, 2009

Asdi Utama

Filed under: De Britto, FKPK — Tag:, , , — aakuntoa @ 11:58 am

Orangtua kami berteman. Teman semasa sekolah di Ganjuran. Itu kami tahu ketika kami sama-sama sekolah di De Britto. Itu pun di penghujung masa studi.

Tapi bukan itu semata alasan pertemanan kami berikutnya. Kami disatukan oleh banyak hal. Semasa SMA, kami aktif di sebuah organisasi pelajar lintas sekolah. Dia pengurus pusat, saya pengurus rayon. Di forum, kami kerap berselisih gagasan. Tapi, di luar forum, kami bergumul dalam canda gurau.

Bakat dagang Asdi sudah tampak sejak SMA. Jika ada kegiatan, ia selalu berkecimpung sebagai seksi dana. Apa pun ia lakukan untuk mendapatkan uang. Jual koran, salah satunya.

Jalur dagang ia teruskan ketika hijrah ke Jakarta, tak berapa lama setelah saya menginjakkan kaki di Ibu Kota. Ia bekerja di sebuah perusahaan farmasi terkemuka sebagai medical representative. Latar belakangnya memang farmasi UGM. Sampai sekarang, meski sudah berpindah perusahaan.

Orangnya sederhana. Tapi jangan tanya soal cita-citanya. Ke mana-mana ia naik motor. Bukan motor terbaru. Jika pulang Jogja, ia pun cukup menumpang kereta bisnis, bukan kereta eksekutif. Padahal ia mampu kalau mau. Sekarang ia sudah punya rumah di Jakarta, berkat kerja kerasnya dalam tempo singkat.

Kami suka janjian makan selama di Jakarta. Angkringan, favorit kami. Kalau tidak di Duren Sawit, ya di Blok M. Karena hobi jalan-jalan, tak heran jika kami bersaing kuat soal penguasaan peta Jakarta. Boleh sombong, teman-teman di Jakarta nyaris selalu tanya pada kami jika hendak pergi-pergi di Jakarta. Lebih-lebih soal jalan tikus.

Asdi teman yang baik. Solidaritasnya pada kawan begitu tinggi. Ia memperhatikan semua teman dengan kadar yang sama tingginya. Sejauh apa pun rumah teman, ia sudah singgahi. Ia rajin berkunjung.


As, nyenengke tenan kekancan mbek kowe. Donya krasa tansah enteng. Lucu tenan ya urip iki. Selamat menaklukkan Jakarta hahaha

Iklan

Desember 11, 2008

Budi “Kelik” Herprasetyo

Lulus dari Bank Danamon, setelah sebelumnya menenteng ijazah pengalaman di PT Berlina, Kelik memboyong istrinya ke Jogja. Pulang kampung, membangun kehidupan baru yang lebih menantang. Barang-barang yang tak lagi ia perlukan ia lego di rumahnya di kawasan Pondok Jagung, belakang Alam Sutera Tangerang. Saya kebagian sepeda motor Astrea Legenda. Motor itu kemudian jadi kendaraan operasional saya, menggantikan Astrea Prima yang dilorot ke Jogja, selama menyusuri jalan-jalan Jakarta.

Kembali ke Jogja, Kelik membantu istri mendirikan salon “Hills” di kawasan Jambusari. Awal banting setirnya. Dan ia seorang yang luar biasa. Mimpinya kuat. Tangannya pun tekun. Usaha salonnya berkembang pesat dengan pelanggan komunitas yang makin terjalin.

Namun, usaha itu terpaksa dihentikannya karena ada panggilan hati ke Tulungagung, Jawa Timur. Ia ditantang untuk mengelola toko bangunan keluarga istrinya. Dan ia menyanggupi. Luar biasa.  Dengan tekad besar, sebagaimana karakternya, ia sungguh hidup di kota yang berjarak 5 jam perjalanan darat dari Jogja itu. Berbekal kemampuannya di bidang akuntansi, ilmu yang ditimbanya di UPN “Veteran” Yogyakarta, plus pengalamannya di BPR sewaktu kuliah, dan kuliah hidupnya di ibu kota, ia mengelola usaha tersebut dengan sungguh-sungguh.

Sudah menjadi agen sebuah merek semen terkemuka untuk wilayah itu. Ya, hanya dalam tempo singkat. Salon “Tamansari” pun sudah dibuka istrinya. Ia juga turut membangun sebuah bisnis hiburan. Dalam benaknya, ada rencana besar bikin lembaga pelatihan, salah satu obsesinya.

Terobosan terbarunya adalah menjadi teman bicara bisnis secara online. Ia membuka rumahnya lebar-lebar. Kelik beranjak menjadi konsultan keuangan.

Kelik teman yang unik. Sejak kenal di SMA, ia pribadi yang menyimpan bara dalam dirinya, sederhana atau lebih tepatnya miskin kala itu, dengan mimpi yang besar. Mimpi seorang pendendam hahaha! Sewaktu SMA, kami juga ngerjain dia. Sepeda motor Super Cup-nya kerap kami sembunyikan sadelnya. Maklum, sadelnya memang gampang copot. Ia tidak marah, malah kita ketawa.

Tapi ternyata, ejekan itu ia simpan sebagai amunisi untuk berprestasi. Setelah perjumpaan di Jogja, sesampainya kembali di Tulungagung, ia meng-sms saya beberapa kali: “Mudah-mudahan semua ejekan yang dulu pernah tak tompo setia menemaniku terus.”

Dalam hitungan hari, buku debutannya Berani Utang Pasti Untung segera terbit. Selamat, sobat!

November 6, 2008

Donny Verdian

Filed under: De Britto — Tag:, , , — aakuntoa @ 10:19 am

Beberapa hari lalu, teman saya ini mengirim sms, “Aku pamit! Titip Jogja yo!” Dan saya tidak membalas sms itu. Tidak perlu.

Sebab, sekarang jarak sudah tidak ada lagi. Kedekatan tidak lagi diikat oleh faktor geografis. Sarana komunikasi yang begitu pepak dan canggih telah meruntuhkan sekat antarruang.

Donny adalah salah satu teman yang mengenalkan saya pada dunia tanpa sekat ini. Lupa persisnya, tapi saya ingat, di kantor kecilnya waktu itu, ia melontarkan iming-iming bernama “blog”. Website pribadi, katanya. Saya mengangguk-angguk saja. Belum terbayang di benak saya kala itu mainan apakah itu.

Perkenalan saya dengan blog di kemudian hari mengingatkan saya pada teman SMA yang suka kami panggil “Bathuk” ini. Saya akui, dia salah satu teman yang membuka cara pandang saya akan dunia yang semakin mengglobal.

Kini, dia pindah ke negeri Kanguru, hidup bersama istrinya. Dan jarak dari sini ke sana tidak ada lagi. Kami tetap bisa bertemu di dunia maya, setiap saat. Maka, tidak ada gunanya ia berpamitan.

Oktober 22, 2008

Wuli Marwanto

Filed under: SDN Percobaan 3 — Tag:, , , — aakuntoa @ 12:07 pm

Bertemu pada saat lebaran sudah seperti menjadi kebiasaan kami dalam tahun-tahun belakangan. Ia yang perantau di ibukota, meski sudah yatim piatu, selalu menyempatkan diri pulang saban hari raya Idul Fitri. Sebab, setiap Idul Fitri hari kedua, keluarga besar kami selalu berkumpul dalam pertemuan trah Pawirodikraman, Kumendung, Pakem.

Seperti lebaran kemarin. Kami bertemu di rumah keluarga Mbah Guno di Pakemgede. Seperti biasa, di tengah berlangsungnya acara yang selalu formal, kami menyempal ke belakang tenda, menyandar di pagar pinggir kebun. Ngobrol tentang banyak hal, juga tentang pekerjaannya di bagian promosi XL.

Menurut garis keturunan, saya harus memanggilnya “Oom”. Orangtuanya segaris dengan mbah saya. Namun, saya tak pernah memanggilnya dengan sebutan yang menurutnya akan bikin mati pasaran itu. Saya panggil dia “Mas”. Dia juga panggil saya “Mas”.

Gara-garanya sepele. Kami duduk sekelas di bangku sekolah, sejak di Taman Kanak-Kanak Kuncup Harapan hingga Sekolah Dasar Percobaan 3. Wuli sosok yang populer. Perawakannya yang montok, kulitnya yang hitam, hingga tingkahnya yang begijikan membuatnya gampang dikenal. Ia dekat dengan teman-teman wanita. Bersama mereka, ia suka main lompat karet, bekelan, empyeng, dan yang terkhusus, ia sangat piawai di dapur sekolah. Seminggu sekali ada jadwal memasak bersama di sekolah kami. Cowok yang paling menonjol keterampilannya meracik aneka olahan adalah Wuli.

Seingat saya, ia tidak suka, atau setidaknya jarang, ikut bermain bola.

SMP kami berpisah. Ia bersekolah di SMP 3 Depok, yang di kemudian hari dirubuhkan untuk didirikan bangunan Bank BNI 46 di Bulaksumur. SMA ditempuhnya di Bopkri 1 Jogja. Baru di perguruan tinggi kami bertemu kembali. Kami sama-sama menjadi mahasiswa Fisipol UGM. Saya ambil S-1, dia D-3.

Sesudah itu kami berpisah. Saya bekerja di Jakarta, ia merantau ke Lampung. Sejatinya ia tidak merantau. Orangtuanya pernah lama bekerja di Lampung sebelum kembali ke Jogja. Jadi, ia kembali ke perantauan. Kesukaannya pada musik dan acara hiburan mengantarnya menjadi penyiar di Radio OzFM, Bandar Lampung. Suatu ketika, saat saya mendapat tugas peliputan di Pringsewu, Lampung Selatan, saya sempatkan menemuinya. Kami minum es kacang merah di depan stasiun.

Mas Wuli, ayo ndang digarap rencana reuni kita. Sponsori sisan, MC sisan ya hahaha…

Oktober 8, 2008

Yusuf Mahendra Putra

Filed under: SMP 1 — Tag:, , , , , , , , , — aakuntoa @ 5:51 am

Beberapa hari lalu, saya bertemu dengan sosok gemuk yang tidak pernah bikin saya pangling ini. Yusuf Mahendra Putra. Masih suka bercelana pendek. Masih dengan gayanya yang santai. “Lagi cari-cari komik,” ujarnya di TB Gramedia Sudirman, Jogja. Kebiasaannya tidak berubah. Sejak saya kenal dia di SMP 1 Jogja, ia penggemar berat komik. Waktu itu Kungfu Boy lagi gayeng-gayengnya. Ufh, tiada hari baginya membaca komik. Di saat istirahat, di saat jeda pelajaran, bahkan di saat pelajaran yang membosankan. Saya kira, kemampuannya menggaet cewek waktu itu juga diinspirasi oleh jurus-jurus komik. Ah, tuduhan yang asal saja.

Cukup lama saya mengingat kembali nama lengkap teman sekelas di Kelas 3A yang kala itu diketuai Meria Andriyani. Sebab, selama berteman dengannya, saya suka memanggilnya Gamber. Nama ini lebih populer ketimbang Yusuf. Sampai sekarang, nama Gamber yang selalu dikenalkannya, bahkan kepada klien sekali pun.

Saya mulai dekat dengannya ketika kami sama-sama bergiat di kegiatan-kegiatan siswa. Di OSIS, saya jadi ketua, dia jadi wakil. Di pramuka, dia jadi wakil dewan penggalang, saya anggota. Dia teman yang baik di organisasi. Rajin mencatat, meski untuk membaca tulisannya butuh ketabahan luar biasa. Semangat, sampai kalau berjalan tampak seperti mau berlari.

Ada beberapa kenangan khusus bersamanya. Untuk pertama kali saya: kenal komputer, menonton bioskop, dan… makan pop corn.

Maklum, saya orang desa. Baru pertama kali sekolah di kota. Era tahun 1990-an, televisi di rumah masih hitam-putih, alih-alih kenal komputer. Pelajaran keterampilan di sekolah juga masih mengetik manual. Thingggg… bunyi mesin ketik saat lembaran pengetikan sudah habis dan harus berpindah ke baris di bawahnya. Tidak ada tombol “enter” di mesin ketik.

Di rumahnya, bilangan Gedong Kuning, malam sepulang ke rumah, saya menyempatkan ke rumahnya. Untuk belajar mengetik di WordStar. Juga maen game hehehe… 15 km jarak rumahnya dengan rumah saya. Apalagi sebagian besar jalan masih gelap kala itu.

Geli jika mengingat saat itu. Anak desa yang katrok kok dipercaya jadi Ketua OSIS SMP favorit Kota Pendidikan. Di sinilah Gamber mengambil peran. Ia membesut saya supaya tidak kampung-kampung amat. Maka, suatu ketika ia mengajak saya nonton film di bioskop. Waktu itu Bioskop Regent masih bertarif 2 ribu perak sekali nonton. Empire, di sebelahnya, bertarif lebih mahal.

Itulah kali pertama saya mengenal bioskop. Menonton film layar lebar. Lupa saya judul filmnya. Yang saya ingat, Gamber traktir saya. Satu lagi, ia belikan saya pop corn. Itu juga kali pertama saya tahu jenis makanan ringan ini.

Kecintaan menulis, sedikit banyak juga terinspirasi olehnya. Gamber rajin bikin puisi. Sampai-sampai, ia punya buku catatan khusus untuk menuangkan imajinasinya. Apa pun bisa ia jadikan puisi. Ehm, saya jadi ingat guru-guru bahasa Indonesia saya: Bu Chafifah, Bu Parto, dan Bu Basirah (SD Percobaan 3). Mereka pula lah yang membekali saya ilmu menulis.

Mber, suwun ya sudah mengenalkan kepadaku banyak dunia baru. Semoga perkecimpunganmu di dunia event organizer makin oke. Supaya semakin banyak orang yang kau tolong bikin acara meriah yang jos. Salam untuk anak dan istrimu ya…

September 16, 2008

Ario Nirmolo

Pertemanan 3 tahun di De Britto berlanjut hingga kini. Ario Nirmolo sahabat yang awet. Kami menjadi dekat, selain karena sama-sama di kelas 1-6, karena sama-sama punya kecintaan pada Pramuka. Aneh, di De Britto yang anti hal-hal berbau militer dan baris-berbaris itu, ada saja yang punya minat yang sama. Ya, sewaktu sekolah di SMP 1 Jogja, saya gandrung pada Pramuka.

Tapi luntur ketika SMA. Tak pernah berseragam, tak pernah ada upacara bendera, rambut boleh gondrong, good bye sudah kegiatan model itu.

Meski begitu, kami tetap berteman. Ario, yang saya panggil Dado (seperti tokoh sandiwara teve waktu itu), setia mengunjungi saya waktu saya opname gara-gara kecelakaan. Catatan pelajaran hari itu ia fotokopi dan antar ke rumah sakit. Sampai ia bohongi satpam rumah sakit demi bisa masuk di luar jam bezoek.

Dado seorang sederhana dengan cita-cita mulia. Setelah tidak diizinkan masuk seminari, untuk menjadi pastor, oleh orangtuanya, ia pun kuliah di ATMI Surakarta. Setahun saja, sebab ia dikeluarkan gara-gara nilainya minus. Semarang kemudian jadi pilihannya. Ke Unika Soegijapranata ia menuju. Ambil jurusan psikologi, bergabung dengan Probo, teman kami. Alhasil, dua teman saya tinggal di Semarang. Memperkuat alasan jika saya dolan ke Kota Atlas itu.

Selulus kuliah, ia bekerja di perusahaan asing di Surabaya. Sesuai dengan keinginan bapaknya. Cari uang di perusahaan bergengsi.

Ia nggak betah. Panggilan hatinya tidak di situ. Ia keluar dan bekerja di sebuah panti asuhan di Lembang, Bandung. Di sana, perhatiannya pada anak-anak kurang beruntung tersalurkan.

Saya pernah membantunya mengerjakan buku untuk lembaga pendampingan anak itu. Sayang, sampai sekarang belum kelar. Menarik, apa yang ia kerjakan. Menarik, apa yang dikerjakan lembaganya.

Dado sangat menikmati pekerjaannya sekarang. Gajinya jauh lebih kecil dari sebelumnya. Fasilitas pun amat terbatas. Kamar seukuran kost menjadi “rumah dinasnya”. Motor kreditan jadi kendaraan operasional.

Do, man for others! Semangat itu kau usung dengan kesungguhan hati. Kesungguhanmu dalam menemani adik-adik kita di SOS Desa Taruna Indonesia selalu mengingatkanku akan arah dan tujuan hidup. Semoga Gusti selalu berkarya dalam tanganmu.

September 15, 2008

Setiawan Chandra

Filed under: De Britto — Tag:, , , , , — aakuntoa @ 9:22 am

Cina satu ini berteman akrab sejak SMA. Perawakannya khas, memudahkan mengingat sosoknya. Gendut tubuhnya membuat ia tampak tidak tinggi. Rambutnya lurus, kalau dipotong pendek njegrak.

Asal Balikpapan, waktu sekolah di Jogja ia naik sepeda ke mana-mana.

Selain pinter, makanya kepilih jadi presidium (pengurus OSIS di sekolah kami), ia juga ramah. Pergaulannya luas. Ia cepat akrab dengan siapa pun. Padahal, stereotipe etnis ini adalah sombong dan egois. Tapi ia tidak. Dan stereotipe seperti itu layaklah digugurkan.

Kostnya terbuka untuk siapa pun. Entah belajar atau sekadar main. Ia pula yang menyediakan tempat tidur waktu saya usai kecelakaan, November 1993. Pulang sekolah, saya berbaring menunggu jemputan di kostnya. Waktu opname di rumah sakit pun, ia sangat rajin membesuk saya. Kepada teman, perhatiannya begitu tinggi.

Tidak hanya teman dekat. Teman jauh pun ia perhatikan. Saya ingat, siswa yang paling sering dan banyak menerima surat dari luar adalah Setiawan –demikian saya biasa memanggil. Ia gemar berkorespondensi. Surat yang diterimanya segera dibalas. Ia sendiri mengantar balasan itu ke kantor pos. Waktu itu belum ada email. Atau, setidaknya, kami belum mengenalnya. Semua komunikasi masih dilakukan secara tradisional.

Usai SMA, kami berpencar. Ia melanjutkan studi ke Taiwan, saya tinggal di Jogja. Ia belajar komputer dan manajemen. Hmmm, semangat belajar teman satu ini memang luar biasa. Chandra Chan, kemudian ia menggunakan nama ini.

Belakangan, kami kerap bertemu. Teknologi memudahkan pertemuan maya ini. Tempo hari, waktu ia singgah ke Jogja, kami sempat pula reuni di rumah makan Probo di Magelang. Ia sudah membawa istri. Kepadanya, saya masih suka melontarkan bahasa Jawa. Saya ingat, semasa SMA, ia begitu gigih belajar bahasa Jawa. Dan bisa. Terbawa sampai sekarang. Banyak bahasa ia kuasai.

Kini ia kembali ke Balikpapan. Pernah berbisnis udang, sekarang ia bekerja di perusahaan tambang. Tapi, dalam waktu dekat, ia mengaku segera keluar untuk membesarkan usahanya sendiri. Ya, itu obsesinya. Punya usaha sendiri.


Wan, terima kasih atas persahabatan yang erat ini ya. Kamu mengajariku keberanian untuk menembus batas. Keberanian untuk mengibarkan bendera ke luar, menunjukkan bahwa aku mampu. Semoga semangat
man for others dari De Britto senantiasa membimbing kita dalam berkarya di dunia.

September 8, 2008

Probo Sidhi Asmoro

Saya menyebut namanya di posting pertama ini. Probo teman sejak SMA. Sekelas di 1-6, berpisah di kelas 2 dan 3. Saya masuk jurusan sosial, ia di fisika. Kelak, selepas SMA, kami juga hampir sekelas lagi. Kami sama-sama diterima di Jurusan Psikologi Unika Soegijapranata, Semarang. Daftar ulang sudah kami lakukan, kartu mahasiswa sudah di tangan, kamar kost sudah kami pesan, tapi batal. Saya ketrima di Jurusan Sosiologi UGM. Berpisahlah kami. Saya tetap tinggal di Jogja.

Beda kota tak melunturkan pertemanan kami. Selagi ada waktu di sela kuliah dan kerja, saya sesekali menyempatkan diri nglencir ke Semarang. Sekalian nyambangi beberapa teman yang juga kuliah di kota itu.

Sampai sekarang, kami bersahabat erat. Malah sudah seperti sedulur.

Apa yang menarik dari sedulur saya ini? Ia seorang yang sederhana dalam segala hal. Persahabatannya dengan alam begitu kental. Sejak kost di Demangan, ia menanam beberapa tumbuhan obat di depan kamar. Ia percaya pada kekuatan alam. Alam memiliki khasiat yang luar biasa, katanya. Maka, dalam hal makan, di kemudian hari, ia memilih pola makan vegetarian. Laku prihatinnya mendalam.

Seusai kuliah, ia pernah berkarir di beberapa perusahaan. Jika diteruskan, karirnya di bidang personalia pasti akan melejit. Namun, sepertinya ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya. Ada yang tidak sreg dengan imannya. Saat bekerja di industri, hidupnya tidak memberi faedah bagi orang lain.

Hingga suatu saat, ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaan. Ia pulang ke Magelang mengurus peternakan ayam arab yang sudah dirintisnya sejak kuliah. Sejak itu, hari-harinya sepenuhnya untuk memberi makan, memvaksinasi, hingga menjual telor ke pasar.

Sesudah menikah, bersama Lia, istrinya, ia merintis rumah makan spesialis ayam bakar “Larasati” di Jalan Raya Magelang-Jogja, Prajenan, Mertoyudan . Dengan mantap, pasangan ini menekuni pekerjaan barunya. Belanja di pasar, memasak, menghidangkan, hingga meladeni pembeli, mereka bagi dua tugasnya. Tentu dibantu beberapa karyawan.

Sempat membuka cabang di Kota Magelang dan Jogja, akhirnya mereka fokus membesarkan rumah makan yang menempati rumah orangtua Probo ini. Dan benar, kini rumah makan itu berkembang pesat. Selain ukurannya tembah besar, pelanggannya juga tambah banyak. Saya termasuk pelanggannya. Setiap ada kesempatan, entah urusan pribadi atau kantor, ke Magelang, Semarang, Wonosobo, atau kota-kota lain yang melewati daerah itu, saya selalu mampir. Entah untuk santap siang atau untuk makan malam. Saya suka steak-nya. Selain sapi, steak ayam menu favorit rumah makan ini. Sedang, menu favorit saya steak cumi-cumi… Lewat bukan kepalang.

Bo, sukses untuk hidupmu ya. Kamu beruntung memiliki istri, Lia, dan anak, Nesia, yang bisa memahami cita-cita suami dan bapaknya: menjadi berguna bagi banyak orang. Tangan dinginmu jadi rejeki bagi orang-orang yang membutuhkan pekerjaan. Semoga tangan Tuhan sendiri berkarya dalam hidupmu.

Blog di WordPress.com.